Kamis, 28 Januari 2016

First Entry This Year: Flashback I

Sebelumnya, saya mau bilang postingan ini mengandung konten riya'. Karena saya emang suka pamer dan nggak tau mau pamer kemana since isi fb dan twitter orang-orangnya lebih hebat dari saya. Jadi, mending saya nyampah di blog sendiri aja kali, yaaa berhubung ini ibarat rumah sendiri wwww x"D

Ini adalah post pertama saya di 2016. Whew. It's almost the end of the first month, tho. I know. Tapi saya baru dapet niat buat nulis di sini lagi. Hmmm kalo boleh jujur, bahkan awalnya saya buka blog cuma buat ganti-ganti template. Iya. Buka blog emang ujung-ujungnya selalu buat benerin template. Nulisnya males. #digebuk

By the way, kalo bicara tentang tahun baru, pastinya kita selalu akan flashback ke tahun sebelumnya. Apa yang udah kita lewatin dan kita capai. Dan harapan kita, biasanya, untuk mendapatkan kembali semua keberuntungan yang kita dapatkan di tahun sebelumnya, dan bahkan mencapai apa yang belum bisa diraih.

Jadi, apa yang sudah kalian capai?

Kalau saya sih, berhubung tahun kemaren nggak ngapa-ngapain biasanya juga begitu dan cuma sibuk main game, yaaa saya cuma bisa achieve dari sesuatu yang udah saya tanem. wwww

Tahun lalu, saya sempet bikin post kalau saya mau main Touken Ranbu, dan saya beneran main. Walau nggak lama, sih. Kurang lebih dua bulan. Untungnya, dua pedang rare udah saya dapet.


Jijiii~

KOGIGI!!!
Saya berhenti main sejak dapet Kogitsunemaru. Sebetulnya masih mau cari para personil R4 (baru punya satu biji cobaaaa hahahahahah), tapi apa daya saya udah capek duluan. Toh, goal saya dapetin Kogi buat nemenin Nakigitsune sudah tercapai~ ^q^ #senang

Sekarang udah ada beberapa pedang baru yang duh sialan cakep-cakep, tapi saya udah keburu males ikut event-nya #ketawa Tapi sebagai gantinya, saya pingin terjun beneran nulis di fandom Touken Ranbu. Saya udah nulis satu judul di situ, dan semoga nanti masih bisa nambah~

Dan, ya, sampai sekarang pun saya masih betah main Unlight. Nggak tau apa yang dipunyai game itu, sampe saya ketagihan banget main. Padahal mainnya bergantung banget sama Dewa RNG. Apalagi sekarang saya udah nemu temen-temen dari dalam negeri yang juga hobi main ini. Jadilah saya semakin teradiksi.

Oh, dan akhir tahun kemaren, kebetulan luck saya lagi bagus-bagusnya. Karena....


JRENGZ!!!
AKHIRNYA SAYA BERHASIL MELENGKAPI DECK NTR GENERASI DUA!!!! >u<

Ini bukan NTR beneran sih hahaha. Kebetulan aja mereka bertiga saling berhubungan dan quotes mereka setiap ketemu di duel sangat menyakitkan. Jadi... saya nggak bisa nggak ngeship mereka bertiga. meskipun cinta saya untuk CobbVoland lebih besar

Saya dapetin Konrad dan Evelyn di minggu yang sama, tepat di event mereka berdua. Dua-duanya didapat tepat setelah saya kalah telak duel. Yah... emang luck darkroom saya sering mendadak hebat setelah dibully di duel. Mungkin harusnya saya lebih sering membiarkan diri saya di-bully _(:"3_ #JANGAN

Akhir tahun juga saya didatangi shota dan loli hebat.

Paulette, Poleto the potato!
Gregor!
Speaks soal mana yang jadi favorit di antara dua shota dan loli di atas, saya sih prefer Gregor karena nggak begitu doyan loli. Saking sukanya sama Gregor, karakter di lobi, yang tadinya Voland, saya ganti jadi Gregor selama kurang lebih dua minggu.

iya saya tau, saya norak


Tapi bukan berarti nggak senang dikasih Paulette. Seneng malah, soalnya dia adalah member Carduus kedua yang saya dapet setelah leader-nya, Noirchrome. Sesungguhnya saya kesal karena belum bisa dapetin personil Carduus yang lain :))))))))))))))

Terus... oh ya, saya akhirnya berhasil nge-L5 salah satu karakter favorit: Gustave!


Pak Presiden!
 Dan sepertinya keputusan buat nge-L5 Presiden mantan penari India  ini tepat. I mean, lihatlah ini:

niceee
Yes, akhirnya Gustave bisa dipakai maksimal baik di Raid maupun duel biasa. Hoho~

Yang terakhir, yaaa anak kesayangan. Voland! Butuh setahun buat naikin ke R3 dan L5. nggak sabar buat R4 dia :"")) #elapKeringat






Di postingan berikutnya, mungkin saya mau berbagi momen lagi. Dan bukan nyampah masalah game lagi. Kayaknya. Hahahaha.

alleira,
sign out!


Minggu, 05 April 2015

Cerita Pendek: Vestige

Vestige



Tidak ada siapapun di tempat itu.

Yang ada cuma desau camar. Dari yang sibuk cari makan sampai, yang terbang dalam kawanan. Yang ada cuma suara ombak. Dari yang main kejar-kejaran, sampai yang menabrak dinding karang.

Hari terlampau panas untuk sekedar duduk-duduk di dekat laut, apalagi sang matahari getol menghujam terik yang menusuk sampai tembus ke pori-pori.

Jika ada yang mau tahu, tempat ini nyaris mirip latar sebuah cerita klise. Di mana dikisahkan seorang pemuda pesimis jatuh cinta setelah menolong pemuda lain yang hampir mati jatuh dari tebing. Cerita manis, sayang terlalu dramatis sampai terkesan tak realistis. Sayangnya lagi, cerita itu tak akan terulang untuk kedua kali.

Cerita itu sudah di simpan rapat-rapat dalam sebuah kotak Pandora yang terlarang untuk dibuka.

Disini, di jalanan yang dibatas tebing-tebing tinggi berlapis bebatuan hitam, Ian dan Dimas berdiri. Ian tampan dengan rambut sehitam malam dan kemeja putih bersih. Dimas gagah dengan rambut warna senada dan kemeja biru langit.

Di bawah mereka ada laut biru. Airnya menghempas kencang, langsung bertemu dengan dinding tebing. Buih putih tercipta. Hilang dan timbul. Terus begitu setiap detiknya. Ada pula karang-karang kecil lancip. Sekali jatuh, minimal tiga rusukmu langsung patah. Dalam keadaan yang lebih fatal, nyawa bisa ikut melayang. Karenanya, di pinggiran jalan beraspal itu sengaja diberi pembatas jalan. Tingginya satu meter, dimaksudkan agar jarak aman senantiasa tercipta bagi para pelintas.

Benar, di tempat itu mereka berdua sering menghabiskan waktu. Benar, di tempat itu burung camar yang menyanyikan mereka lagu. Benar, itu tempat mereka pertama bertemu. Benar, itu kenangan yang telah lalu. Dulu, di titik waktu yang teramat lampau—waktu cinta mereka baru rekah tanpa campur tangan pihak tertentu.

Dimas tahu hubungan mereka tak lagi berjalan seperti dulu. Semuanya masih baik, hanya saja tak sama seperti dulu. Tapi, salahkah dia berusaha memperbaiki yang sudah hancur?

"Segarnyaaa!" Ian berteriak gembira. Suaranya menggema. A-a-a-a, lalu hilang ditelan udara. "Udah lama kita nggak ke sini, kan, Dim?"

Orang yang ditanya bersandar pada Nissan hitam. Kerah kemeja biru langitnya berkibar-kibar diterpa angin. Ponsel sengaja ia tinggal di dalam. Tak mau momen langka diganggu berisik nada panggil. "Ya, udah lama."

Ian tersenyum. Bau garam yang khas memenuhi udara. Dia rindu tempat ini.

"Tempat ini masih kelihatan sama."

"Iya."

"Langitnya masih biru. Awannya masih putih."

"Iya."

"Lautnya juga masih biru."

"Iya."

"Semuanya sama persis kayak dulu. Iya, kan, Dim?"

Zrash. Ombak menghantam karang.

"Iya."

Mereka terdiam menikmati suasana. Musim panas yang terik. Hawa laut membakar kulit. Camar bernyanyi tanpa lirik.

Mungkin orang-orang pikir akan ada bisik kata cinta dan jemari yang saling bertautan, namun tak ada satupun yang jadi nyata. Mulut mereka terkunci rapat. Hanya mata mereka yang saling menatap pemandangan lekat.

Mereka menikmati semuanya dalam kebisuan, hingga Ian berkata, "Orang-orang di keluarga kamu semuanya penjunjung nilai tradisi. Konservatif."

Alis Dimas naik satu. Bingung dengan topik yang tiba-tiba Ian ajukan. "Kesimpulan dari mana?"

"Gampang," Ian membalikkan badan, menatap Dimas "orangtua kamu benci anomali." Ian memberi jeda yang cukup lama. Sengaja membuat Dimas terkikis kesabarannya. "Mereka benci hubungan kita dan mati-matian jauhin kamu dari aku. Mereka terlalu frontal, menurutku."

Dimas berusaha keras untuk tidak membiarkan ada satu perubahan emosi pun timbul di wajahnya, tapi tebakan Ian merupakan pukulan telak baginya.

Hubungannya dengan Ian adalah sebuah aib besar bagi keluarganya yang masih memuja nilai-nilai tradisional. Konyol memang, bagaimana di era modern—di mana tekhnologi telah berhasil menjamah tiap sudut kehidupan dengan sulur-sulur millenium— ternyata masih ada keluarga yang mengikat diri pada tradisi.

Kadang, Dimas bingung memikirkan itu semua. Kenapa harus ada tradisi? Kenapa anomali dimusuhi? Kenapa tali yang menghalang diikat mati?

Dia harus jujur jika tradisi, yang telah menyatu dalam darah dan dagingnya, kadang membuatnya ragu dalam menentukan langkah. Seperti sebuah segel sihir yang akan aktif dan otomatis melemparmu jauh-jauh ketika kau akan melakukan hal terlarang—dalam kasus ini, merajut kisah bersama Ian. Namun, kadang Dimas menemukan setengah dari dirinya berontak. Di dalam dirinya selalu ada percikan api yang ingin bebas dari kungkungan tradisi. Semakin hari, api itu semakin besar—sama seperti tradisi yang semakin hari, makin mengikatnya kuat-kuat.

Memikirkan itu semua selalu membuat Dimas putus asa terhadap pilihannya sendiri.

"Rahangmu mengencang, berarti aku betul," simpul Ian seenaknya. "Karena itu, setiap kamu lagi sama aku, orangtua kamu telepon. Karena itu juga mereka tiba-tiba merancang pernikahan antara kamu dan gadis itu—siapa namanya? Claudhie? Karena mereka pikir kamu nggak pantas berinteraksi sama aku yang merupakan anomali dunia mereka?"

"Orangtuaku nggak selamanya benci anomali. Sudut pandang mereka bisa berubah."

"Dengan kemungkinan 0.000001%? Tentu saja!" Ian kembali tergelak, namun Dimas tahu—terbaca jelas dari emosi yang mengambang di matanya—dia sedang putus asa.

Ombak berlari kencang, menghantam karang hitam. Di atas sana, Ian mendekat pada Dimas. Tangannya meraih kedua pipi si orang terkasih. Matanya menatap lembut penuh kasih. Sebaliknya, Dimas mematung dan terhenyak.

Di suasana panas begini jemari Ian terasa dingin seperti beku.

Sebuah jeda mengambang. Dua mata saling tatap, ekspresi saling bertukar, lalu,

"Kita berbeda, tahu.”

*

Dimas ingat hari di mana keluarganya murka. Emosi meledak dan frustasi menyeruak. Begitu dahsyat dan hebat, hingga sebuah pedang hampir ditarik dari dalam sarung dan menebas tubuhnya. Begitu dahsyat dan hebat, hingga adik perempuan kecilnya menangis dalam balut ketakutan.

Biang masalahnya, tak lain dan tak bukan, adalah dirinya sendiri. Dia, Dimas Nugraha, telah menorehkan arang di muka keluarga.

Dia dengan tegas telah menolak perjodohan dengan Claudhie, anak tunggal sahabat karib orangtuanya. Serangkaian rencana resepsi pernikahan pun terpaksa batal.

Keluarga Claudhie sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan, namun harga diri tetap saja tercemar. Apalagi sang anak lebih memilih pria ketimbang wanita. Benar-benar tak masuk di akal.

Apa yang salah dengan anak gadis sang kerabat?

Dia gadis cantik dengan aura keibuan. Pintar dan berpendidikan, kuliahnya saja di luar negeri, begitu yang sering digadang-gadangkan sang ayah. Gadis itu sopan dan santun. Tutur katanya lembut dan berbudi luhur. Ketika bicara, suaranya seperti kicau burung. Sempurna tanpa cela.

Apa yang salah? Kenapa Dimas menolak apa yang seharusnya tak bisa ditolak oleh kebanyakan orang?

Malu malu malu, ayahnya berteriak frustasi. Mau ditaruh di mana muka kita?
Dimas menerima amukan ayahnya dalam sunyi. Tak berkeinginan untuk menyanggah apalagi membantah. Apa yang mau diharapkan? Dialah sang biang keladi.

Amukan dan serangkaian kalimat kutukan terus dilontarkan.

"Beraninya kamu buat malu di depan orang!” Telunjuk itu menuding murka. “—Tak tahu diri!"

Dimas ingat hari itu ayahnya begitu murka. Emosi dalam dirinya meletup sedemikian rupa. Hingga akhirnya hubungannya dengan Ian yang jadi kambing hitam.

"Jangan pernah berhubungan dengan dia lagi!" Karena dia adalah anomali.

Bagi keluarganya, keputusan tadi adalah tindakan terbaik. Bagi Dimas, itu sama dengan vonis mati.

Di saat itulah api dalam diri Dimas tersulut. Besar dan panas. Sampai mampu membuatnya buta pada ikatan tradisi selama beberapa saat. Sampai ia berani meninggalkan rumah tanpa peduli teriakan ayahnya. Jika tindak-tanduknya dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, maka kenapa pula ia terus bertahan?

Hari itu, Dimas datang ke tempat Ian. Membagi frustasi yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Malam yang datang tak lantas membuat gumpalan rasa putus asa padam. Semuanya justru makin menjadi-jadi.

Salahkan Ian yang akhirnya menangis. Salahkan Ian yang akhirnya memilih opsi menyerah dan melepas ikatan. Salahkan Ian yang—

"Aku tahu mereka benci aku dari dulu!"

—terlalu peka.

Dimas berusaha menjelaskan, namun Ian tak mau mendengarkan. Mereka berteriak. Mereka terluka.

Lalu semuanya menyentuh titik klimaks saat tangan besar Dimas merenggut rambut Ian dan mendongakkan kepalanya dengan kasar sebelum disusul dengan kuncian antar mulut yang tak kalah kasar. Bibir mereka bertabrakan dan gigi bergemeretuk. Kehangatan asin adalah bukti emosi yang teraduk.

Dimas marah, terluka, dan sedih, dan dia tengah menunjukkannya dengan cara khasnya: kekerasan, walau ia yakin Ian sama sekali tak keberatan dengan caranya.

Percikan-pecikan api yang saling berkumpul perlahan mulai beresonansi. Hingga ciuman perlahan berubah jadi lumatan panjang yang kasar. Dan jemari panjang akhirnya saling menyusur deretan tulang belakang. Dan pakaian saling mereka tanggalkan.

Malam itu, keduanya begitu putus asa. Ian. Dimas. Keduanya. Tik tok tik jarum jam terus berjalan. Dua kulit putih yang beda gradasi saling bersentuhan, menyebar hangat dalam peleburan yang membuat lupa sesaat akan masalah dan logika. Semuanya berakhir ketika deklamasi cinta diungkapkan dalam bentuk dua nama.

Dimas mengira, setelah ini, semuanya akan baik-baik saja. Segalanya akan berakhir bahagia. Namun semua berubah jadi serpihan ketika matanya membuka dan menangkap sosok Ian berdiri di depan jendela terbuka. Kemeja putih berkibar. Kedua tangan terentang.

"Keluarga kamu benar. Anomali nggak seharusnya jadi pilihan," dia berucap sedih. "Aku nggak mau jadi penghalang."

Kemudian tubuh itu menghempaskan diri ke belakang. Menyambut udara terbuka. Sepasang tangan besar berusaha meraih, namun yang ia gapai hanya hampa udara.

Gravitasi lebih dulu mendorong tubuh itu.

Dia jatuh.

Jatuh ke tanah.

*

Musim panas yang terik. Langit membentang biru tanpa awan. Semilir angin laut menghempas serpihan kenangan. Di jalanan yang berbatasan dengan bebatuan tebing, Ian dan Dimas berdiri bergeming.

Ian tampan dengan rambut bersinar dan kemeja putih tanpa noda. Badannya dingin dan wajahnya merona.

"Hei, Dim. Kamu bukan anak berbakti, tahu."

"Ya."

"Juga nggak bisa terus bertahan dalam ikatan tradisi."

"Ya."

"Juga nggak bisa bikin aku hidup lagi."

Teriakan burung laut membelah udara.

"... Benar."

Satu kedipan mata, dan sosok Ian hilang dari hadapannya.


Selasa, 31 Maret 2015

Fiksi Singkat~Flash Fiction

Kado

“Bang, selamat ulang tahun. Cepet tobat, ya.”

Dia menerima majalah Hidayah limited edition dari sang adik.

*

Janji

Dahulu, kakak beradik itu pernah berjanji akan menikah suatu hari nanti. Masalahnya, mereka laki-laki.

“Cie. Homo.”

*

Galau

Jarak + Waktu = LDR

Di saat galau melanda, kertas ulangan pun berubah jadi ladang curhat.

*

Kerja Sama

“Berat sama dipikul!”

“Ringan sama dijinjing!”

Saat ulangan tiba, mereka kompak tak tertandingi.

*

Alasan

“Saya sedang menjalani hubungandengan kebebasan.”

Bahkan jomblo pun punya alasan.


Senin, 23 Maret 2015

Cerita Pendek: Danau Peri

Danau Peri


Danau Peri
Kumpulan mimpi
Jalinan imajinasi
Alunan rapsodi
Mari masuk dan lintasi dimensi
Temukan keajaiban tersembunyi
Peri kecil tidak menggigit
Perhatian: hanya bisa dimasuki satu kali

Untuk seorang anak usia duabelas yang imajinasinya masih menyala liar, label yang terpasang di depan salah satu tenda sirkus itu tentulah begitu menyilaukan. Termasuk untuk Nana. Kata peri, danau, dan rapsodi membuat matanya membesar. Oh, dan jangan lupa bagian keajaibannya. Antusiasme Nana langsung muncul, meletup-letup bagai kembang api yang diluncurkan di malam pembukaan sirkus, seminggu lalu.

Tap, tap, tap. Kaki itu melangkah riang, masuk ke dalam tenda merah bergaris putih. Peri, peri. Akhirnya Nana bisa melihat makhluk dalam cerita dongeng Mama!

Satu, dua, tiga. Dia terus berjalan. Masuk, masuk—hei, kenapa tenda ini lebih panjang dari kelihatannya? Dia bertanya-tanya saat tak kunjung menemukan ujung. Dan semua rasa herannya makin memuncak ketika kakinya tak lagi menyentuh tanah, tapi rerumputan. Hijau dan segar.

Maju sedikit lagi, dan ia menemukan hamparan rumput serta bunga-bunga hortensia. Sebuah danau membentang di dekat pohon beech besar. Airnya jernih dan memantulkan cahaya surya—yang mana langsung membuat Nana terheran-heran. Ia cukup yakin datang ke sirkus bersama Oliver, temannya, pada malam hari. Jadi, darimana asalnya cahaya itu? Lampu? Nana mendongak, tapi dia tak menemukan langit-langit tenda. Yang ada hanya hamparan langit biru. Seolah-olah ia memang berada di sebuah danau di tepian hutan.

Rararu….

Atensi Nana tertarik ketika pendengarannya menangkap suara nyanyian dari arah danau. Ia mendekat dan tersenyum lebar saat menemukan peri-peri berloncatan.

Mereka kecil seperti kata Mama. Cantik dan berwarna-warni. Ada yang merah, biru, hijau, merah muda—dan, oh, lihat peri ungu yang berputar-putar di atas air! Mereka terbang dan meloncat, seolah sedang menggelar sebuah pertunjukan.

Beberapa peri hijau menari di atas air. Peri kuning bermain dengan pantulan cahaya. Peri biru berenang riang, loncat dan masuk lagi ke danau. Seperti lumba-lumba. Hanya saja lebih kecil dan punya sayap. Nana tertawa ketika salah satu dari mereka terlalu bersemangat hingga menabrak yang lain.

Peri yang warna merah muda adalah yang paling anggun. Ia duduk di atas bunga teratai dan bernyanyi. Rurira…. Rururirura…. Seperti itu. Nana tidak tahu apa yang mereka nyanyikan, karena ia tidak bisa bahasa peri. Tapi ia yakin, yang mereka lantunkan adalah melodi keriaan.

Peri ungu dan hijau menari berpasangan, seolah-olah menjadi pengiring peri merah muda. Begitu pula peri yang berwarna biru. Ketika tangan peri biru terangkat, anak-anak air ikut terbang ke udara. Dan saat itu pula, peri kuning melemparkan cahaya dan—splash! Pelangi tercipta.

Nana tertawa dan bertepuk tangan, terbawa rasa riang. Wajahnya penuh rona bahagia. Tapi, tapi, bukankah Nana tidak datang sendiri ke sirkus malam ini? Ya, ya. Nana datang bersama Oliver. Tidak adil jika ia hanya melihat keajaiban ini sendiri. Maka, Nana pun bangkit kemudian berlari ke pintu keluar—yang anehnya muncul begitu saja setelah benaknya mengingat Oliver.

Nana berlari keluar dari tenda, mencari-cari Oliver. Sirkus malam itu penuh dengan orang. Gelak tawa serta harum sirup apel mengudara. Ia terus berlari hingga sampai di area api unggun—yang anehnya menyala dengan warna silver alih-alih merah— dan menemukan Oliver berdiri sambil menggenggam plastik bening.

“Oh! Nana! Menemukan tenda yang menarik lagi?” Oliver bertanya. Beberapa menit lalu, ia dan Nana memutuskan berpencar sebentar setelah memasuki beberapa tenda. Pertunjukan yang ada dalam tiap tenda di sirkus ini begitu hebat! Ia mungkin akan terus melihatnya—kalau perut Oliver tidak berontak lapar.

“Antrian manisan apelnya panjang sekali. Jadi, aku beli cokelat tikus saja. Ini. Enak loh.” Anak kali-laki itu menyodorkan cokelat berbentuk tikus kecil. Sepertinya enak, tercium dari baunya. Tapi Nana buru-buru menggeleng dan meraih lengan Oliver.

“Tenda peri!”

“Hah?”                                                                 

“Ada tenda berisi peri!”

“Maksudmu?”

Nana tidak menjawab dan membawa Oliver berlari melewati orang-orang. Mereka menabrak beberapa orang, tapi Nana tidak peduli. Cari, cari. Lurus dan belok dan lurus dan belok lagi dan kaki itu berhenti di depan sebuah papan bertuliskan:



Ujung dari Sirkus

Minggu, 22 Maret 2015

Mencoba Berpuisi

Aku Melihatmu


aku melihatmu selalu
tepat di penghujung Sabtu
dari sudut ruangan berdebu
berteman sepi juga sendu
aku melihatmu selalu
melalui celah-celah di rak buku
di antara dengung halaman buku
bersembunyi di balik abu-abu
aku melihatmu terus
berlatar waktu yang terus melaju
bersama angan yang tak terurus
terlanjur pecah di masa lalu karena kamu
aku melihatmu masih
mengabaikan mulutmu yang fasih
rapal kata sayang ke sosoknya yang putih
cantikcantikcantik dan manis
aku melihatmu
dari sini

senantiasa