Minggu, 05 April 2015

Cerita Pendek: Vestige

Vestige



Tidak ada siapapun di tempat itu.

Yang ada cuma desau camar. Dari yang sibuk cari makan sampai, yang terbang dalam kawanan. Yang ada cuma suara ombak. Dari yang main kejar-kejaran, sampai yang menabrak dinding karang.

Hari terlampau panas untuk sekedar duduk-duduk di dekat laut, apalagi sang matahari getol menghujam terik yang menusuk sampai tembus ke pori-pori.

Jika ada yang mau tahu, tempat ini nyaris mirip latar sebuah cerita klise. Di mana dikisahkan seorang pemuda pesimis jatuh cinta setelah menolong pemuda lain yang hampir mati jatuh dari tebing. Cerita manis, sayang terlalu dramatis sampai terkesan tak realistis. Sayangnya lagi, cerita itu tak akan terulang untuk kedua kali.

Cerita itu sudah di simpan rapat-rapat dalam sebuah kotak Pandora yang terlarang untuk dibuka.

Disini, di jalanan yang dibatas tebing-tebing tinggi berlapis bebatuan hitam, Ian dan Dimas berdiri. Ian tampan dengan rambut sehitam malam dan kemeja putih bersih. Dimas gagah dengan rambut warna senada dan kemeja biru langit.

Di bawah mereka ada laut biru. Airnya menghempas kencang, langsung bertemu dengan dinding tebing. Buih putih tercipta. Hilang dan timbul. Terus begitu setiap detiknya. Ada pula karang-karang kecil lancip. Sekali jatuh, minimal tiga rusukmu langsung patah. Dalam keadaan yang lebih fatal, nyawa bisa ikut melayang. Karenanya, di pinggiran jalan beraspal itu sengaja diberi pembatas jalan. Tingginya satu meter, dimaksudkan agar jarak aman senantiasa tercipta bagi para pelintas.

Benar, di tempat itu mereka berdua sering menghabiskan waktu. Benar, di tempat itu burung camar yang menyanyikan mereka lagu. Benar, itu tempat mereka pertama bertemu. Benar, itu kenangan yang telah lalu. Dulu, di titik waktu yang teramat lampau—waktu cinta mereka baru rekah tanpa campur tangan pihak tertentu.

Dimas tahu hubungan mereka tak lagi berjalan seperti dulu. Semuanya masih baik, hanya saja tak sama seperti dulu. Tapi, salahkah dia berusaha memperbaiki yang sudah hancur?

"Segarnyaaa!" Ian berteriak gembira. Suaranya menggema. A-a-a-a, lalu hilang ditelan udara. "Udah lama kita nggak ke sini, kan, Dim?"

Orang yang ditanya bersandar pada Nissan hitam. Kerah kemeja biru langitnya berkibar-kibar diterpa angin. Ponsel sengaja ia tinggal di dalam. Tak mau momen langka diganggu berisik nada panggil. "Ya, udah lama."

Ian tersenyum. Bau garam yang khas memenuhi udara. Dia rindu tempat ini.

"Tempat ini masih kelihatan sama."

"Iya."

"Langitnya masih biru. Awannya masih putih."

"Iya."

"Lautnya juga masih biru."

"Iya."

"Semuanya sama persis kayak dulu. Iya, kan, Dim?"

Zrash. Ombak menghantam karang.

"Iya."

Mereka terdiam menikmati suasana. Musim panas yang terik. Hawa laut membakar kulit. Camar bernyanyi tanpa lirik.

Mungkin orang-orang pikir akan ada bisik kata cinta dan jemari yang saling bertautan, namun tak ada satupun yang jadi nyata. Mulut mereka terkunci rapat. Hanya mata mereka yang saling menatap pemandangan lekat.

Mereka menikmati semuanya dalam kebisuan, hingga Ian berkata, "Orang-orang di keluarga kamu semuanya penjunjung nilai tradisi. Konservatif."

Alis Dimas naik satu. Bingung dengan topik yang tiba-tiba Ian ajukan. "Kesimpulan dari mana?"

"Gampang," Ian membalikkan badan, menatap Dimas "orangtua kamu benci anomali." Ian memberi jeda yang cukup lama. Sengaja membuat Dimas terkikis kesabarannya. "Mereka benci hubungan kita dan mati-matian jauhin kamu dari aku. Mereka terlalu frontal, menurutku."

Dimas berusaha keras untuk tidak membiarkan ada satu perubahan emosi pun timbul di wajahnya, tapi tebakan Ian merupakan pukulan telak baginya.

Hubungannya dengan Ian adalah sebuah aib besar bagi keluarganya yang masih memuja nilai-nilai tradisional. Konyol memang, bagaimana di era modern—di mana tekhnologi telah berhasil menjamah tiap sudut kehidupan dengan sulur-sulur millenium— ternyata masih ada keluarga yang mengikat diri pada tradisi.

Kadang, Dimas bingung memikirkan itu semua. Kenapa harus ada tradisi? Kenapa anomali dimusuhi? Kenapa tali yang menghalang diikat mati?

Dia harus jujur jika tradisi, yang telah menyatu dalam darah dan dagingnya, kadang membuatnya ragu dalam menentukan langkah. Seperti sebuah segel sihir yang akan aktif dan otomatis melemparmu jauh-jauh ketika kau akan melakukan hal terlarang—dalam kasus ini, merajut kisah bersama Ian. Namun, kadang Dimas menemukan setengah dari dirinya berontak. Di dalam dirinya selalu ada percikan api yang ingin bebas dari kungkungan tradisi. Semakin hari, api itu semakin besar—sama seperti tradisi yang semakin hari, makin mengikatnya kuat-kuat.

Memikirkan itu semua selalu membuat Dimas putus asa terhadap pilihannya sendiri.

"Rahangmu mengencang, berarti aku betul," simpul Ian seenaknya. "Karena itu, setiap kamu lagi sama aku, orangtua kamu telepon. Karena itu juga mereka tiba-tiba merancang pernikahan antara kamu dan gadis itu—siapa namanya? Claudhie? Karena mereka pikir kamu nggak pantas berinteraksi sama aku yang merupakan anomali dunia mereka?"

"Orangtuaku nggak selamanya benci anomali. Sudut pandang mereka bisa berubah."

"Dengan kemungkinan 0.000001%? Tentu saja!" Ian kembali tergelak, namun Dimas tahu—terbaca jelas dari emosi yang mengambang di matanya—dia sedang putus asa.

Ombak berlari kencang, menghantam karang hitam. Di atas sana, Ian mendekat pada Dimas. Tangannya meraih kedua pipi si orang terkasih. Matanya menatap lembut penuh kasih. Sebaliknya, Dimas mematung dan terhenyak.

Di suasana panas begini jemari Ian terasa dingin seperti beku.

Sebuah jeda mengambang. Dua mata saling tatap, ekspresi saling bertukar, lalu,

"Kita berbeda, tahu.”

*

Dimas ingat hari di mana keluarganya murka. Emosi meledak dan frustasi menyeruak. Begitu dahsyat dan hebat, hingga sebuah pedang hampir ditarik dari dalam sarung dan menebas tubuhnya. Begitu dahsyat dan hebat, hingga adik perempuan kecilnya menangis dalam balut ketakutan.

Biang masalahnya, tak lain dan tak bukan, adalah dirinya sendiri. Dia, Dimas Nugraha, telah menorehkan arang di muka keluarga.

Dia dengan tegas telah menolak perjodohan dengan Claudhie, anak tunggal sahabat karib orangtuanya. Serangkaian rencana resepsi pernikahan pun terpaksa batal.

Keluarga Claudhie sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan, namun harga diri tetap saja tercemar. Apalagi sang anak lebih memilih pria ketimbang wanita. Benar-benar tak masuk di akal.

Apa yang salah dengan anak gadis sang kerabat?

Dia gadis cantik dengan aura keibuan. Pintar dan berpendidikan, kuliahnya saja di luar negeri, begitu yang sering digadang-gadangkan sang ayah. Gadis itu sopan dan santun. Tutur katanya lembut dan berbudi luhur. Ketika bicara, suaranya seperti kicau burung. Sempurna tanpa cela.

Apa yang salah? Kenapa Dimas menolak apa yang seharusnya tak bisa ditolak oleh kebanyakan orang?

Malu malu malu, ayahnya berteriak frustasi. Mau ditaruh di mana muka kita?
Dimas menerima amukan ayahnya dalam sunyi. Tak berkeinginan untuk menyanggah apalagi membantah. Apa yang mau diharapkan? Dialah sang biang keladi.

Amukan dan serangkaian kalimat kutukan terus dilontarkan.

"Beraninya kamu buat malu di depan orang!” Telunjuk itu menuding murka. “—Tak tahu diri!"

Dimas ingat hari itu ayahnya begitu murka. Emosi dalam dirinya meletup sedemikian rupa. Hingga akhirnya hubungannya dengan Ian yang jadi kambing hitam.

"Jangan pernah berhubungan dengan dia lagi!" Karena dia adalah anomali.

Bagi keluarganya, keputusan tadi adalah tindakan terbaik. Bagi Dimas, itu sama dengan vonis mati.

Di saat itulah api dalam diri Dimas tersulut. Besar dan panas. Sampai mampu membuatnya buta pada ikatan tradisi selama beberapa saat. Sampai ia berani meninggalkan rumah tanpa peduli teriakan ayahnya. Jika tindak-tanduknya dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, maka kenapa pula ia terus bertahan?

Hari itu, Dimas datang ke tempat Ian. Membagi frustasi yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Malam yang datang tak lantas membuat gumpalan rasa putus asa padam. Semuanya justru makin menjadi-jadi.

Salahkan Ian yang akhirnya menangis. Salahkan Ian yang akhirnya memilih opsi menyerah dan melepas ikatan. Salahkan Ian yang—

"Aku tahu mereka benci aku dari dulu!"

—terlalu peka.

Dimas berusaha menjelaskan, namun Ian tak mau mendengarkan. Mereka berteriak. Mereka terluka.

Lalu semuanya menyentuh titik klimaks saat tangan besar Dimas merenggut rambut Ian dan mendongakkan kepalanya dengan kasar sebelum disusul dengan kuncian antar mulut yang tak kalah kasar. Bibir mereka bertabrakan dan gigi bergemeretuk. Kehangatan asin adalah bukti emosi yang teraduk.

Dimas marah, terluka, dan sedih, dan dia tengah menunjukkannya dengan cara khasnya: kekerasan, walau ia yakin Ian sama sekali tak keberatan dengan caranya.

Percikan-pecikan api yang saling berkumpul perlahan mulai beresonansi. Hingga ciuman perlahan berubah jadi lumatan panjang yang kasar. Dan jemari panjang akhirnya saling menyusur deretan tulang belakang. Dan pakaian saling mereka tanggalkan.

Malam itu, keduanya begitu putus asa. Ian. Dimas. Keduanya. Tik tok tik jarum jam terus berjalan. Dua kulit putih yang beda gradasi saling bersentuhan, menyebar hangat dalam peleburan yang membuat lupa sesaat akan masalah dan logika. Semuanya berakhir ketika deklamasi cinta diungkapkan dalam bentuk dua nama.

Dimas mengira, setelah ini, semuanya akan baik-baik saja. Segalanya akan berakhir bahagia. Namun semua berubah jadi serpihan ketika matanya membuka dan menangkap sosok Ian berdiri di depan jendela terbuka. Kemeja putih berkibar. Kedua tangan terentang.

"Keluarga kamu benar. Anomali nggak seharusnya jadi pilihan," dia berucap sedih. "Aku nggak mau jadi penghalang."

Kemudian tubuh itu menghempaskan diri ke belakang. Menyambut udara terbuka. Sepasang tangan besar berusaha meraih, namun yang ia gapai hanya hampa udara.

Gravitasi lebih dulu mendorong tubuh itu.

Dia jatuh.

Jatuh ke tanah.

*

Musim panas yang terik. Langit membentang biru tanpa awan. Semilir angin laut menghempas serpihan kenangan. Di jalanan yang berbatasan dengan bebatuan tebing, Ian dan Dimas berdiri bergeming.

Ian tampan dengan rambut bersinar dan kemeja putih tanpa noda. Badannya dingin dan wajahnya merona.

"Hei, Dim. Kamu bukan anak berbakti, tahu."

"Ya."

"Juga nggak bisa terus bertahan dalam ikatan tradisi."

"Ya."

"Juga nggak bisa bikin aku hidup lagi."

Teriakan burung laut membelah udara.

"... Benar."

Satu kedipan mata, dan sosok Ian hilang dari hadapannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar