Vestige
Tidak ada siapapun di tempat itu.
Yang ada cuma desau camar. Dari yang
sibuk cari makan sampai, yang terbang dalam kawanan. Yang ada cuma suara ombak.
Dari yang main kejar-kejaran, sampai yang menabrak dinding karang.
Hari terlampau panas untuk sekedar
duduk-duduk di dekat laut, apalagi sang matahari getol menghujam terik yang
menusuk sampai tembus ke pori-pori.
Jika ada yang mau tahu, tempat ini
nyaris mirip latar sebuah cerita klise. Di mana dikisahkan seorang pemuda
pesimis jatuh cinta setelah menolong pemuda lain yang hampir mati jatuh dari tebing. Cerita manis, sayang terlalu dramatis
sampai terkesan tak realistis. Sayangnya lagi, cerita itu tak akan terulang
untuk kedua kali.
Cerita itu sudah di
simpan rapat-rapat dalam sebuah kotak Pandora yang terlarang untuk dibuka.
Disini, di jalanan yang dibatas
tebing-tebing tinggi berlapis bebatuan hitam, Ian dan Dimas berdiri. Ian tampan
dengan rambut sehitam malam dan kemeja putih bersih. Dimas gagah dengan rambut
warna senada dan kemeja biru
langit.
Di bawah mereka ada laut biru. Airnya
menghempas kencang, langsung bertemu dengan dinding tebing. Buih putih
tercipta. Hilang dan timbul. Terus begitu setiap detiknya. Ada pula
karang-karang kecil lancip. Sekali jatuh, minimal tiga rusukmu langsung patah.
Dalam keadaan yang lebih fatal, nyawa bisa ikut melayang. Karenanya, di
pinggiran jalan beraspal itu sengaja diberi pembatas jalan. Tingginya satu
meter, dimaksudkan agar jarak aman senantiasa tercipta bagi para pelintas.
Benar, di tempat itu mereka berdua
sering menghabiskan waktu. Benar,
di tempat itu burung camar yang menyanyikan mereka lagu. Benar, itu tempat
mereka pertama bertemu. Benar, itu kenangan yang telah lalu. Dulu, di titik
waktu yang teramat lampau—waktu cinta mereka baru rekah tanpa campur tangan
pihak tertentu.
Dimas tahu hubungan mereka tak lagi berjalan seperti dulu. Semuanya masih
baik, hanya saja tak sama seperti dulu. Tapi, salahkah dia berusaha memperbaiki
yang sudah hancur?
"Segarnyaaa!" Ian berteriak
gembira. Suaranya menggema. A-a-a-a, lalu hilang ditelan udara. "Udah lama
kita nggak ke sini, ‘kan,
Dim?"
Orang yang ditanya bersandar pada Nissan
hitam. Kerah kemeja biru langitnya berkibar-kibar diterpa angin. Ponsel sengaja
ia tinggal di dalam. Tak mau momen langka diganggu berisik nada panggil.
"Ya, udah lama."
Ian tersenyum. Bau garam yang khas
memenuhi udara. Dia rindu tempat ini.
"Tempat ini masih kelihatan
sama."
"Iya."
"Langitnya masih biru. Awannya
masih putih."
"Iya."
"Lautnya juga masih biru."
"Iya."
"Semuanya sama persis kayak dulu. Iya, ‘kan, Dim?"
Zrash. Ombak menghantam karang.
"Iya."
Mereka terdiam menikmati suasana.
Musim panas yang terik. Hawa laut membakar kulit. Camar bernyanyi tanpa lirik.
Mungkin orang-orang pikir akan ada
bisik kata cinta dan jemari yang saling
bertautan, namun tak ada satupun yang jadi nyata. Mulut mereka terkunci rapat.
Hanya mata mereka yang saling menatap pemandangan lekat.
Mereka menikmati semuanya dalam
kebisuan, hingga Ian berkata, "Orang-orang di keluarga kamu semuanya penjunjung nilai tradisi.
Konservatif."
Alis Dimas naik satu. Bingung dengan
topik yang tiba-tiba Ian ajukan. "Kesimpulan dari mana?"
"Gampang," Ian membalikkan
badan, menatap Dimas "orangtua kamu benci anomali." Ian memberi jeda yang cukup lama. Sengaja membuat Dimas
terkikis kesabarannya. "Mereka
benci hubungan kita dan mati-matian jauhin kamu dari aku. Mereka terlalu frontal,
menurutku."
Dimas berusaha keras untuk tidak membiarkan
ada satu perubahan
emosi pun timbul di wajahnya, tapi tebakan Ian merupakan pukulan telak baginya.
Hubungannya dengan Ian adalah sebuah
aib besar bagi keluarganya yang masih memuja nilai-nilai tradisional. Konyol memang,
bagaimana di era modern—di mana tekhnologi telah berhasil menjamah tiap sudut
kehidupan dengan sulur-sulur millenium— ternyata
masih ada keluarga yang mengikat diri pada tradisi.
Kadang, Dimas bingung memikirkan itu semua.
Kenapa harus ada tradisi? Kenapa anomali dimusuhi? Kenapa tali yang menghalang
diikat mati?
Dia harus jujur jika tradisi, yang
telah menyatu dalam darah dan dagingnya, kadang membuatnya ragu dalam
menentukan langkah. Seperti sebuah segel sihir yang akan aktif dan otomatis
melemparmu jauh-jauh ketika kau akan melakukan hal terlarang—dalam kasus ini,
merajut kisah bersama Ian. Namun, kadang Dimas menemukan setengah dari dirinya
berontak. Di dalam dirinya selalu ada percikan api yang ingin bebas dari
kungkungan tradisi. Semakin hari, api itu semakin besar—sama seperti tradisi
yang semakin hari, makin mengikatnya kuat-kuat.
Memikirkan itu semua selalu membuat Dimas
putus asa terhadap pilihannya sendiri.
"Rahangmu mengencang, berarti
aku betul," simpul Ian seenaknya. "Karena itu, setiap kamu
lagi sama aku, orangtua kamu telepon. Karena itu juga mereka tiba-tiba
merancang pernikahan antara kamu dan gadis itu—siapa namanya?
Claudhie? Karena mereka
pikir kamu
nggak pantas berinteraksi sama aku yang merupakan anomali dunia mereka?"
"Orangtuaku nggak selamanya benci
anomali. Sudut pandang mereka bisa berubah."
"Dengan kemungkinan 0.000001%?
Tentu saja!" Ian kembali tergelak, namun Dimas tahu—terbaca jelas dari
emosi yang mengambang di matanya—dia sedang putus asa.
Ombak berlari kencang, menghantam
karang hitam. Di atas sana, Ian mendekat pada Dimas. Tangannya meraih kedua
pipi si orang terkasih. Matanya menatap lembut penuh kasih. Sebaliknya, Dimas
mematung dan terhenyak.
Di suasana panas begini jemari Ian
terasa dingin seperti beku.
Sebuah jeda mengambang. Dua mata
saling tatap, ekspresi saling bertukar, lalu,
"Kita berbeda, tahu.”
*
Dimas ingat hari di mana keluarganya
murka. Emosi meledak dan frustasi menyeruak. Begitu dahsyat dan hebat, hingga
sebuah pedang hampir ditarik dari dalam sarung dan menebas tubuhnya. Begitu
dahsyat dan hebat, hingga adik perempuan kecilnya menangis dalam balut
ketakutan.
Biang masalahnya, tak lain dan tak
bukan, adalah dirinya sendiri. Dia, Dimas Nugraha, telah menorehkan arang di
muka keluarga.
Dia dengan tegas telah menolak
perjodohan dengan Claudhie, anak
tunggal sahabat karib orangtuanya. Serangkaian rencana resepsi pernikahan pun terpaksa
batal.
Keluarga Claudhie sebenarnya tak
terlalu mempermasalahkan, namun harga diri tetap saja tercemar. Apalagi sang
anak lebih memilih pria ketimbang wanita. Benar-benar tak masuk di akal.
Apa yang salah dengan anak gadis sang
kerabat?
Dia gadis cantik dengan aura keibuan.
Pintar dan berpendidikan, kuliahnya saja di luar negeri, begitu yang
sering digadang-gadangkan sang ayah.
Gadis itu sopan dan santun. Tutur katanya lembut dan berbudi luhur. Ketika
bicara, suaranya seperti kicau burung. Sempurna tanpa cela.
Apa yang salah? Kenapa Dimas menolak
apa yang seharusnya tak bisa ditolak oleh kebanyakan orang?
Malu malu malu,
ayahnya berteriak frustasi. Mau ditaruh di mana muka kita?
Dimas menerima amukan ayahnya dalam
sunyi. Tak berkeinginan untuk menyanggah apalagi membantah. Apa yang mau
diharapkan? Dialah sang biang keladi.
Amukan dan serangkaian kalimat
kutukan terus dilontarkan.
"Beraninya kamu buat malu di
depan orang!” Telunjuk itu menuding murka. “—Tak tahu diri!"
Dimas ingat hari itu ayahnya begitu
murka. Emosi dalam dirinya meletup sedemikian rupa. Hingga akhirnya hubungannya
dengan Ian yang jadi kambing hitam.
"Jangan pernah berhubungan
dengan dia lagi!" Karena dia adalah anomali.
Bagi keluarganya, keputusan tadi
adalah tindakan terbaik. Bagi Dimas, itu sama dengan vonis mati.
Di saat itulah api dalam diri Dimas tersulut. Besar dan
panas. Sampai mampu membuatnya buta pada ikatan tradisi selama beberapa saat.
Sampai ia berani meninggalkan rumah tanpa peduli teriakan ayahnya. Jika tindak-tanduknya
dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai keluarga, maka kenapa pula ia terus
bertahan?
Hari itu, Dimas datang ke tempat Ian. Membagi frustasi yang
selama ini ia pendam dalam-dalam. Malam yang datang tak lantas membuat gumpalan
rasa putus asa padam. Semuanya justru makin menjadi-jadi.
Salahkan Ian yang akhirnya menangis. Salahkan Ian yang
akhirnya memilih opsi menyerah dan melepas ikatan. Salahkan Ian yang—
"Aku tahu mereka benci aku dari dulu!"
—terlalu peka.
Dimas berusaha menjelaskan, namun Ian tak mau mendengarkan.
Mereka berteriak. Mereka terluka.
Lalu semuanya menyentuh titik klimaks saat tangan besar Dimas
merenggut rambut Ian dan mendongakkan kepalanya dengan kasar sebelum disusul
dengan kuncian antar mulut yang tak kalah kasar. Bibir mereka bertabrakan dan
gigi bergemeretuk. Kehangatan asin adalah bukti emosi yang teraduk.
Dimas marah, terluka, dan sedih, dan dia tengah menunjukkannya
dengan cara khasnya: kekerasan, walau ia yakin Ian sama sekali tak keberatan
dengan caranya.
Percikan-pecikan api yang saling berkumpul perlahan mulai
beresonansi. Hingga ciuman perlahan berubah jadi lumatan panjang yang kasar.
Dan jemari panjang akhirnya saling menyusur deretan tulang belakang. Dan
pakaian saling mereka tanggalkan.
Malam itu, keduanya begitu putus asa. Ian. Dimas. Keduanya.
Tik tok tik jarum jam terus berjalan. Dua kulit putih yang beda gradasi saling
bersentuhan, menyebar hangat dalam peleburan yang membuat lupa sesaat akan
masalah dan logika. Semuanya berakhir ketika deklamasi cinta diungkapkan dalam
bentuk dua nama.
Dimas mengira, setelah ini, semuanya akan baik-baik saja.
Segalanya akan berakhir bahagia. Namun semua berubah jadi serpihan ketika
matanya membuka dan menangkap sosok Ian berdiri di depan jendela terbuka.
Kemeja putih berkibar. Kedua tangan terentang.
"Keluarga kamu benar. Anomali nggak seharusnya jadi pilihan," dia
berucap sedih. "Aku nggak mau jadi penghalang."
Kemudian tubuh itu menghempaskan diri ke belakang. Menyambut
udara terbuka. Sepasang tangan besar berusaha meraih, namun yang ia gapai hanya
hampa udara.
Gravitasi lebih dulu mendorong tubuh itu.
Dia jatuh.
Jatuh ke tanah.
*
Musim panas yang terik. Langit membentang biru tanpa awan.
Semilir angin laut menghempas serpihan kenangan. Di jalanan yang berbatasan
dengan bebatuan tebing, Ian dan Dimas berdiri bergeming.
Ian tampan dengan rambut bersinar dan kemeja putih tanpa noda.
Badannya dingin dan wajahnya merona.
"Hei, Dim. Kamu bukan anak berbakti, tahu."
"Ya."
"Juga nggak bisa terus bertahan dalam ikatan
tradisi."
"Ya."
"Juga nggak bisa bikin aku hidup lagi."
Teriakan burung laut membelah udara.
"... Benar."
Satu kedipan mata, dan sosok Ian hilang dari hadapannya.





