Selasa, 31 Maret 2015

Fiksi Singkat~Flash Fiction

Kado

“Bang, selamat ulang tahun. Cepet tobat, ya.”

Dia menerima majalah Hidayah limited edition dari sang adik.

*

Janji

Dahulu, kakak beradik itu pernah berjanji akan menikah suatu hari nanti. Masalahnya, mereka laki-laki.

“Cie. Homo.”

*

Galau

Jarak + Waktu = LDR

Di saat galau melanda, kertas ulangan pun berubah jadi ladang curhat.

*

Kerja Sama

“Berat sama dipikul!”

“Ringan sama dijinjing!”

Saat ulangan tiba, mereka kompak tak tertandingi.

*

Alasan

“Saya sedang menjalani hubungandengan kebebasan.”

Bahkan jomblo pun punya alasan.


Senin, 23 Maret 2015

Cerita Pendek: Danau Peri

Danau Peri


Danau Peri
Kumpulan mimpi
Jalinan imajinasi
Alunan rapsodi
Mari masuk dan lintasi dimensi
Temukan keajaiban tersembunyi
Peri kecil tidak menggigit
Perhatian: hanya bisa dimasuki satu kali

Untuk seorang anak usia duabelas yang imajinasinya masih menyala liar, label yang terpasang di depan salah satu tenda sirkus itu tentulah begitu menyilaukan. Termasuk untuk Nana. Kata peri, danau, dan rapsodi membuat matanya membesar. Oh, dan jangan lupa bagian keajaibannya. Antusiasme Nana langsung muncul, meletup-letup bagai kembang api yang diluncurkan di malam pembukaan sirkus, seminggu lalu.

Tap, tap, tap. Kaki itu melangkah riang, masuk ke dalam tenda merah bergaris putih. Peri, peri. Akhirnya Nana bisa melihat makhluk dalam cerita dongeng Mama!

Satu, dua, tiga. Dia terus berjalan. Masuk, masuk—hei, kenapa tenda ini lebih panjang dari kelihatannya? Dia bertanya-tanya saat tak kunjung menemukan ujung. Dan semua rasa herannya makin memuncak ketika kakinya tak lagi menyentuh tanah, tapi rerumputan. Hijau dan segar.

Maju sedikit lagi, dan ia menemukan hamparan rumput serta bunga-bunga hortensia. Sebuah danau membentang di dekat pohon beech besar. Airnya jernih dan memantulkan cahaya surya—yang mana langsung membuat Nana terheran-heran. Ia cukup yakin datang ke sirkus bersama Oliver, temannya, pada malam hari. Jadi, darimana asalnya cahaya itu? Lampu? Nana mendongak, tapi dia tak menemukan langit-langit tenda. Yang ada hanya hamparan langit biru. Seolah-olah ia memang berada di sebuah danau di tepian hutan.

Rararu….

Atensi Nana tertarik ketika pendengarannya menangkap suara nyanyian dari arah danau. Ia mendekat dan tersenyum lebar saat menemukan peri-peri berloncatan.

Mereka kecil seperti kata Mama. Cantik dan berwarna-warni. Ada yang merah, biru, hijau, merah muda—dan, oh, lihat peri ungu yang berputar-putar di atas air! Mereka terbang dan meloncat, seolah sedang menggelar sebuah pertunjukan.

Beberapa peri hijau menari di atas air. Peri kuning bermain dengan pantulan cahaya. Peri biru berenang riang, loncat dan masuk lagi ke danau. Seperti lumba-lumba. Hanya saja lebih kecil dan punya sayap. Nana tertawa ketika salah satu dari mereka terlalu bersemangat hingga menabrak yang lain.

Peri yang warna merah muda adalah yang paling anggun. Ia duduk di atas bunga teratai dan bernyanyi. Rurira…. Rururirura…. Seperti itu. Nana tidak tahu apa yang mereka nyanyikan, karena ia tidak bisa bahasa peri. Tapi ia yakin, yang mereka lantunkan adalah melodi keriaan.

Peri ungu dan hijau menari berpasangan, seolah-olah menjadi pengiring peri merah muda. Begitu pula peri yang berwarna biru. Ketika tangan peri biru terangkat, anak-anak air ikut terbang ke udara. Dan saat itu pula, peri kuning melemparkan cahaya dan—splash! Pelangi tercipta.

Nana tertawa dan bertepuk tangan, terbawa rasa riang. Wajahnya penuh rona bahagia. Tapi, tapi, bukankah Nana tidak datang sendiri ke sirkus malam ini? Ya, ya. Nana datang bersama Oliver. Tidak adil jika ia hanya melihat keajaiban ini sendiri. Maka, Nana pun bangkit kemudian berlari ke pintu keluar—yang anehnya muncul begitu saja setelah benaknya mengingat Oliver.

Nana berlari keluar dari tenda, mencari-cari Oliver. Sirkus malam itu penuh dengan orang. Gelak tawa serta harum sirup apel mengudara. Ia terus berlari hingga sampai di area api unggun—yang anehnya menyala dengan warna silver alih-alih merah— dan menemukan Oliver berdiri sambil menggenggam plastik bening.

“Oh! Nana! Menemukan tenda yang menarik lagi?” Oliver bertanya. Beberapa menit lalu, ia dan Nana memutuskan berpencar sebentar setelah memasuki beberapa tenda. Pertunjukan yang ada dalam tiap tenda di sirkus ini begitu hebat! Ia mungkin akan terus melihatnya—kalau perut Oliver tidak berontak lapar.

“Antrian manisan apelnya panjang sekali. Jadi, aku beli cokelat tikus saja. Ini. Enak loh.” Anak kali-laki itu menyodorkan cokelat berbentuk tikus kecil. Sepertinya enak, tercium dari baunya. Tapi Nana buru-buru menggeleng dan meraih lengan Oliver.

“Tenda peri!”

“Hah?”                                                                 

“Ada tenda berisi peri!”

“Maksudmu?”

Nana tidak menjawab dan membawa Oliver berlari melewati orang-orang. Mereka menabrak beberapa orang, tapi Nana tidak peduli. Cari, cari. Lurus dan belok dan lurus dan belok lagi dan kaki itu berhenti di depan sebuah papan bertuliskan:



Ujung dari Sirkus

Minggu, 22 Maret 2015

Mencoba Berpuisi

Aku Melihatmu


aku melihatmu selalu
tepat di penghujung Sabtu
dari sudut ruangan berdebu
berteman sepi juga sendu
aku melihatmu selalu
melalui celah-celah di rak buku
di antara dengung halaman buku
bersembunyi di balik abu-abu
aku melihatmu terus
berlatar waktu yang terus melaju
bersama angan yang tak terurus
terlanjur pecah di masa lalu karena kamu
aku melihatmu masih
mengabaikan mulutmu yang fasih
rapal kata sayang ke sosoknya yang putih
cantikcantikcantik dan manis
aku melihatmu
dari sini

senantiasa

Sabtu, 21 Maret 2015

Masa Tidak Produktif: Tenggelam dalam Game

Jadi setelah sekian lama, karena satu dan lain hal, akhirnya saya balik lagi ngisi blog ini.

Bulan-bulan ini emang lagi masa-masanya saya nggak produktif. Saya males nulis, saya males baca, dan untuk pertama kali, saya merasa males sekali buat buka situs ffn. Bahkan bulan Februari lalu salah satu temen saya, Ritsu, sempet ngundang buat ngeramaiin challenge yang dia gelar dan saya terpaksa banget nggak ikut karena karya saya nggak jadi tepat waktu. bahkan sampe sekarang masih belum selesai!!!

Satu-satunya kegiatan yang paling tekun saya kerjain adalah buka hp, lalu nge-RP bareng temen. Kegiatan lainnya itu buka laptop, buka tab google chrome, lalu main Unlight. Bukan game baru sih, lagian saya juga udah pernah bikin akun kurang lebih setengah tahun lalu. Tapi berhubung saya baru tau cara mainnya akhir-akhir ini, akhirnya saya baru ketagihan sekarang.

Unlight Belinda says: "Ayo, tatap mata tante."
Lalu akhir-akhir ini saya juga kepikiran buat main game pedang-pedangan, karena kebetulan game tsb lagi booming. Temen-temen di TL saya juga pada ngeributin perihal game itu sih, makanya saya penasaran lagian saya juga mau liat para ikemen personifikasi pedangnya wwwww. Tapi apa boleh buat, karena server game tersebut lagi penuh, akhirnya saya baru bisa main bulan April nanti, setelah update dan pengadaan server baru _(:"D_

behold guys, this is attack of ikemen! 


Oh, dan ngomong-ngomong, kayaknya mulai sekarang saya akan lebih rajin nambah entri di sini. Masih belum tau mau isi sama apa, tapi kayaknya bakal saya isi sama coret-coretan saya.