Danau
Peri
Danau
Peri
Kumpulan
mimpi
Jalinan
imajinasi
Alunan
rapsodi
Mari
masuk dan lintasi dimensi
Temukan
keajaiban tersembunyi
Peri
kecil tidak menggigit
Perhatian:
hanya bisa dimasuki satu kali
Untuk seorang anak usia duabelas yang imajinasinya masih
menyala liar, label yang terpasang di depan salah satu tenda sirkus itu
tentulah begitu menyilaukan. Termasuk untuk Nana. Kata peri, danau, dan rapsodi
membuat matanya membesar. Oh, dan jangan lupa bagian keajaibannya. Antusiasme
Nana langsung muncul, meletup-letup bagai kembang api yang diluncurkan di malam
pembukaan sirkus, seminggu lalu.
Tap, tap, tap. Kaki itu melangkah riang, masuk ke dalam
tenda merah bergaris putih. Peri, peri. Akhirnya Nana bisa melihat makhluk
dalam cerita dongeng Mama!
Satu, dua, tiga. Dia terus berjalan. Masuk, masuk—hei,
kenapa tenda ini lebih panjang dari kelihatannya? Dia bertanya-tanya saat tak
kunjung menemukan ujung. Dan semua rasa herannya makin memuncak ketika kakinya
tak lagi menyentuh tanah, tapi rerumputan. Hijau dan segar.
Maju sedikit lagi, dan ia menemukan hamparan rumput serta
bunga-bunga hortensia. Sebuah danau membentang di dekat pohon beech besar. Airnya jernih dan
memantulkan cahaya surya—yang mana langsung membuat Nana terheran-heran. Ia
cukup yakin datang ke sirkus bersama Oliver, temannya, pada malam hari. Jadi,
darimana asalnya cahaya itu? Lampu? Nana mendongak, tapi dia tak menemukan
langit-langit tenda. Yang ada hanya hamparan langit biru. Seolah-olah ia memang
berada di sebuah danau di tepian hutan.
Rararu….
Atensi Nana tertarik ketika pendengarannya menangkap
suara nyanyian dari arah danau. Ia mendekat dan tersenyum lebar saat menemukan
peri-peri berloncatan.
Mereka kecil seperti kata Mama. Cantik dan
berwarna-warni. Ada yang merah, biru, hijau, merah muda—dan, oh, lihat peri
ungu yang berputar-putar di atas air! Mereka terbang dan meloncat, seolah sedang
menggelar sebuah pertunjukan.
Beberapa peri hijau menari di atas air. Peri kuning
bermain dengan pantulan cahaya. Peri biru berenang riang, loncat dan masuk lagi
ke danau. Seperti lumba-lumba. Hanya saja lebih kecil dan punya sayap. Nana
tertawa ketika salah satu dari mereka terlalu bersemangat hingga menabrak yang
lain.
Peri yang warna merah muda adalah yang paling anggun. Ia
duduk di atas bunga teratai dan bernyanyi. Rurira….
Rururirura…. Seperti itu. Nana tidak tahu apa yang mereka nyanyikan, karena
ia tidak bisa bahasa peri. Tapi ia yakin, yang mereka lantunkan adalah melodi
keriaan.
Peri ungu dan hijau menari berpasangan, seolah-olah
menjadi pengiring peri merah muda. Begitu pula peri yang berwarna biru. Ketika
tangan peri biru terangkat, anak-anak air ikut terbang ke udara. Dan saat itu
pula, peri kuning melemparkan cahaya dan—splash!
Pelangi tercipta.
Nana tertawa dan bertepuk tangan, terbawa rasa riang.
Wajahnya penuh rona bahagia. Tapi, tapi, bukankah Nana tidak datang sendiri ke
sirkus malam ini? Ya, ya. Nana datang bersama Oliver. Tidak adil jika ia hanya
melihat keajaiban ini sendiri. Maka, Nana pun bangkit kemudian berlari ke pintu
keluar—yang anehnya muncul begitu saja setelah benaknya mengingat Oliver.
Nana berlari keluar dari tenda, mencari-cari Oliver.
Sirkus malam itu penuh dengan orang. Gelak tawa serta harum sirup apel
mengudara. Ia terus berlari hingga sampai di area api unggun—yang anehnya
menyala dengan warna silver alih-alih merah— dan menemukan Oliver berdiri
sambil menggenggam plastik bening.
“Oh! Nana! Menemukan tenda yang menarik lagi?” Oliver
bertanya. Beberapa menit lalu, ia dan Nana memutuskan berpencar sebentar
setelah memasuki beberapa tenda. Pertunjukan yang ada dalam tiap tenda di
sirkus ini begitu hebat! Ia mungkin akan terus melihatnya—kalau perut Oliver
tidak berontak lapar.
“Antrian manisan apelnya panjang sekali. Jadi, aku beli
cokelat tikus saja. Ini. Enak loh.” Anak kali-laki itu menyodorkan cokelat
berbentuk tikus kecil. Sepertinya enak, tercium dari baunya. Tapi Nana
buru-buru menggeleng dan meraih lengan Oliver.
“Tenda peri!”
“Hah?”
“Ada tenda berisi peri!”
“Maksudmu?”
Nana tidak menjawab dan membawa Oliver berlari melewati
orang-orang. Mereka menabrak beberapa orang, tapi Nana tidak peduli. Cari,
cari. Lurus dan belok dan lurus dan belok lagi dan kaki itu berhenti di depan sebuah papan bertuliskan:
Ujung
dari Sirkus